Jumat, 07 Maret 2014

pokok bahasan penalaran

PENDAHULUAN

Ø  Latar Belakang
Penalaran merupakan suatu proses pemikiran untuk sampai pada suatu kesimpulan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan yang telah diketahui sebelumnya. Setiap pernyataanpun tidak pernah lepas dari pengertian-pengertian yang membangun setiap pernyataan tersebut.
Dalam proses pemikiran yang berbentuk penalaran, antara pengertian satu dengan yang lain dapat dihubungkan dan seterusnya diungkapkan dalam bentuk kalimat, dan kalimat ini ada yang disebut kalimat tertutup atau disebut juga dengan pernyataan. Dan pernyataan inilah merupakan bentuk terakhir yang akan di perbandingkan dalam penalaran. Oleh karena itu, dalam bab ini sebagai awal pembicaraan logika akan diuraikan berturut-turut tentang pengertian dan term, pembagian dan definisi, serta tentang pernyataan dan penalaran.

Ø  Permasalahan
·         Apa pengertian penalaran ?
·         Apa pengertian dari proposisi ?
·         Apa pengertian inferensi dan implikasi ?
·         Apa yang dimaksud wujud evidensi ?
·         Bagaimana cara menguji data ?
·         Bagaimana cara menguji fakta ?
·         Bagaimana cara menilai otoritas ?

Ø  Tujuan
·         Mengetahui pengertian dari penalaran, proposisi, serta inferensi dan implikasi
·         Mengetahui cara menguji data
·         Mengetahui cara menguji fakta
·         Mengetahui cara menilai otoritas







POKOK BAHASAN PENALARAN


Ø  Pengertian Penalaran
Penalaran merupakan hubungan dalam proses berfikir secara logis sistematis terorganisasi yang menghasilkan fakta yang berguna untuk diproses, dan dianalisis untuk menjadi suatu topik dalam menyampaikan suatu kesimpulan .

Ø  Proposisi
Proposisi merupakan bentuk kalimat yang memiliki arti dalam menyatakan kebenarannya dan dapat ditolak karena kesalahan yang terkandung dikalimat tersebut. Sehingga proposisi memiliki tiga bagian utama yaitu subjek, predikat, dan kopula. Yang dapat menghubungkan subjek dan predikat dalam untuk membangun sebuah kalimat yang kuantitas.
Contoh            : semua manusia adalah sama
Keterangan      : semua            = Pembilang
                          Manusia         = subjek
                          Adalah          = kopula
                          Sama                         = predikat

·         4 kriteria Proposisi :
                                                       I.            Berdasarkan bentuk
                                                    II.            Berdasarkan sifat
                                                 III.            Berdasarkan kualitas
                                                 IV.            Berdasarkan kuantitas

Ø  Inferensi dan Implikasi
Beberapa penjelasan Inferensi menurut para ahli, yaitu Alwasilah (1985:131) mengetengahkan pengertian interferensi berdasarkan rumusan Hartman dan Stonk bahwa interferensi merupakan kekeliruan yang disebabkan oleh adanya kecenderungan membiasakan pengucapan (ujaran) suatu bahasa terhadap bahasa lain mencakup pengucapan satuan bunyi, tata bahasa, dan kosakata. Sementara itu, Jendra (1991:109) mengemukakan bahwa interferensi meliputi berbagai aspek kebahasaan, bisa menyerap dalam bidang tata bunyi (fonologi), tata bentukan kata (morfologi), tata kalimat (sintaksis), kosakata (leksikon), dan tata makna (semantik) (Suwito,1985:55).

Interferensi, menurut Nababan (1984), merupakan kekeliruan yang terjadi sebagai akibat terbawanya kebiasaan-kebiasaan ujaran bahasa ibu atau dialek ke dalam bahasa atau dialek kedua. Senada dengan itu, Chaer dan Agustina (1995: 168) mengemukakan bahwa interferensi adalah peristiwa penyimpangan norma dari salah satu bahasa atau lebih.
Untuk memantapkan pemahaman mengenai pengertian interferensi, berikut ini akan diketengahkan pokok-pokok pikiran para ahli dibidang sisiolinguistik yang telah mendefinisikan peristiwa ini.
Menurut pendapat Chaer (1998:159) interferensi pertama kali digunakan oleh Weinrich untuk menyebut adanya perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur yang bilingual. Interferensi mengacu pada adanya penyimpangan dalam menggunakan suatu bahasa dengan memasukkan sistem bahasa lain. Serpihan-serpihan klausa dari bahasa lain dalam suatu kalimat bahasa lain juga dapat dianggap sebagai peristiwa interferensi. Sedangkan, menurut Hartman dan Stonk dalam Chair (1998:160) interferensi terjadi sebagai akibat terbawanya kebiasaan-kebiasaan ujaran bahasa ibu atau dialek ke dalam bahasa atau dialek kedua.
Jadi, Inferensi secara ringkas merupakan kesimpulan yang terdapat sebuah fakta yang ada sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan. Namun didalam inferensi cenderung adanya kekeliuran dalam membiasakan pengucapan suatu bahasa terhadap bahasa lain sehingga menimbulkan bunyi-bunyi dalam bahasa. Sedangkan Implikasi merupakan bagian kalimat yang dirangkum secara fakta.

Ø  Wujud evidensi
Wujud evidensi merupakan informasi yang secara fakta atau nyata berkaitan dengan unsur argumentatif, sehingga di dalam evidensi tidak terdapat pernyataan dan penegasan karena hubungan nya tidak mempengaruhi pada evidensi, dan hanya untuk memastikan apakah fakta itu benar atau tidak berdasarkan keterangan dari sumbernya.

Ø  Cara menguji data
Cara menguji data adalah informasi yang terdapat pada sebuah data yang memiliki fakta serta hasil yang akurat, sehingga diperlukan adanya pengujian dan cara-cara untuk digunakan secara evidensi, seperti observasi, kesaksian atau keterangan dari sumbernya dan autoritas.

Ø  Cara menguji fakta
Cara menguji fakta adalah untuk memperoleh apakah informasi atau data yang didapat secara fakta atau tidak, maka perlu adanya pengujian yang harus dilakukan yaitu memastikan bahwa semua data atau informasi yang diperoleh adalah fakta, apabila fakta tersebut benar maka dapat disimpulkan dalam sebuah bukti yang akurat. Cara menguji fakta :

1.      Konsistensi
Konsistensi suatu informasi bisa jadi tolak ukur yang baik untuk menentukan informasi itu merupakan fakta atau bukan. Dalam hal ini data atau informasi yang bisa kita anggap sebagai fakta ialah ketika tiap data yang diberikan saling mendukung. Dari beberapa data yang kita terima tidak ada yang saling bertentangan dan saling melemahkan data yang lain. Tentu saja kalau banyak pertentangan akan membuat kumpulan data tersebut semakin tidak valid. Saya memperoleh materi ini dari suatu buku yang saya pinjem dan setelah dipelajari saya ingin memberi contoh dari data yang kurang valid: Saya pergi ke pasar untuk membeli ikan. Pada hari itu saya sedang sakit parah karena masuk angin. Itulah contoh yang saya bisa buat. Kalau ada yang keliru mohon dibenarkan(komentar di artikel ini). Contoh diatas terdiri dari 2 pernyataan "Saya pergi ke pasar untuk membeli ikan" dan juga "Pada hari itu saya sedang sakit parah karena masuk angin". Dalam contoh itu dapat langsung kita pahami bahwa informasi yang kedua melemahkan informasi yang pertama. Ini membuat penerima informasi menjadi ragu bahwa ini sebuah fakta.
2.      Koherensi
Untuk mengetahui suatu infromasi ialah suatu fakta kamu perlu menggunakan dasar koherensi. Yang dimaksud dengan dasar koherensi ialah bagaimana data atau infromasi tersebut sesuai dengan pengalaman manusia pada umumnya. Kalau informasi yang diterima sama sekali jarang terjadi atau kejadian yang tidak masuk akal tentu saja informasi tersebut diragunakan kebenarannya. Contoh yang sangat sederhana ketika seseorang mengaku bertemu dengan monster atau makhluk luar angkasa akan sangat sulis sekali untuk dipercaya sebagai suatu fakta. Sebaliknya apabila ada informasi seperti ini "Terjadi pembunuhan di kebun teh kemarin malam" informasi ini tentu bisa lebih diterima. Oleh karena itu ada baiknya jika ingin menyampaikan suatu fakta disertai oleh contoh nyata pengalaman yang dialami masyarakat umum.

Ø  Cara menilai otoritas
Metode ini digunakan untuk menguasai ilmu pengetahuan jika metode pengalaman tidak dapat digunakan secara efektif. Cara lain dengan bertanya atau menggunakan pengalaman orang lain. Seorang mahasiswa tidak perlu pergi ke bulan untuk mengetahuitentang keadaan dan situasi bulan. Mereka dapat bertanya pada dosennya atau orang yangmempunyai pengalaman dalam bidangnya.





PENUTUP

Ø  Kesimpulan
Logika artinya bernalar; penalaran (reasoning) adalah proses mengambil simpulan (conclusion) dari bahan bukti atau petunjuk (evidence) yang ada. Secara umum ada dua jalan untuk mengambil simpulan dalam penalaran, yakni lewat penalaran induktif dan penalaran deduktif. Deduktif dan induktif berkaitan dengan logika atau penalaran. Cara menarik simpulan bisa dilakukan dengan dua cara, yakni penarikan simpulan secara langsung dan penarikan simpulan secara tidak langsung. Salah nalar (fallacy) ialah gagasan, perkiraan atau simpulan yang keliru atau sesat. Salah nalar terjadi karena kita tidakmengikuti tata carapemikiran dengan tepat. Telaah atas kesalahan itu membantu kita menemukan logika yang tidak masuk akal dalam tulisan atau karangan.




SUMBER :

staffsite.gunadarma.ac.id



soal pertanyaan serta jawaban :

1.      Hubungan dalam proses berfikir secara logis sistematis terorganisasi yang menghasilkan fakta yang berguna untuk diproses, dan dianalisis untuk menjadi suatu topik dalam menyampaikan suatu kesimpulan adalah pengertian dari?
a)      Proposisi
b)      Silogisme kategorial
c)      Penalaran*
d)     Inferensi dan implikasi

2.      Ada berapa kriteria dalam proposisi ?
a)      1
b)      2
c)      3
d)     4*

3.      Pengertian cara menguji data, yaitu ?
a)      informasi yang secara fakta atau nyata berkaitan dengan unsur argumentatif, sehingga di dalam evidensi tidak terdapat pernyataan dan penegasan karena hubungan nya tidak mempengaruhi pada evidensi, dan hanya untuk memastikan apakah fakta itu benar atau tidak berdasarkan keterangan dari sumbernya.
b)      informasi ang terdapat pada sebuah data yang memiliki fakta serta hasil yang akurat, sehingga diperlukan adanya pengujian dan cara-cara untuk digunakan secara evidensi, seperti observasi, kesaksian atau keterangan dari sumbernya dan autoritas.*
c)      informasi yang secara fakta atau nyata berkaitan dengan unsur argumentatif, sehingga di dalam evidensi tidak terdapat pernyataan dan penegasan karena hubungan nya tidak mempengaruhi pada evidensi, dan hanya untuk memastikan apakah fakta itu benar atau tidak berdasarkan keterangan dari sumbernya.
d)     informasi atau data yang didapat secara fakta atau tidak, maka perlu adanya pengujian yang harus dilakukan yaitu memastikan bahwa semua data atau informasi yang diperoleh adalah fakta, apabila fakta tersebut benar maka dapat disimpulkan dalam sebuah bukti yang akurat.

4.      interferensi merupakan kekeliruan yang disebabkan oleh adanya kecenderungan membiasakan pengucapan (ujaran) suatu bahasa terhadap bahasa lain mencakup pengucapan satuan bunyi, tata bahasa, dan kosakata, penjelasan diatas merupakan pendapat dari?
a)      Alwasilah (1985:131)*
b)      Chaer (1998:159)
c)      Hartman dan Stonk dalam Chair (1998:160)
d)     Chaer dan Agustina (1995: 168)

5.      informasi yang secara fakta atau nyata berkaitan dengan unsur argumentatif, sehingga di dalam evidensi tidak terdapat pernyataan dan penegasan karena hubungan nya tidak mempengaruhi pada evidensi, dan hanya untuk memastikan apakah fakta itu benar atau tidak berdasarkan keterangan dari sumbernya merupakan pengertian dari ?
a)      wujud evidensi*
b)      proposisi
c)      cara menilai otoritas
d)     penalaran

Jawaban :
1.      c
2.      d
3.      b
4.      a
5.      a





Jumat, 17 Januari 2014

Mengapa Produsen Perlu Mengamati Perilaku Konsumen

PERILAKU KONSUMEN
“MENGAPA PRODUSEN PERLU MENGAMATI
PERILAKU KONSUMEN”



Disusun Oleh :


 LINA ANGGRENI
                             3EA06
                           14211101

  




MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA 2014





BAB I
PENDAHULUAN


1.1.Latar Belakang
Hubungan antara konsumen dengan produsen merupakan hal yang lazim dalam dunia pemasaran. Untuk itu, memahami bagaimana perilaku konsumen sudah menjadi harga mati untuk dikuasai oleh setiap produsen. Dengan memahami perilaku konsumen, para produsen bisa menawarkan kepuasan yang lebih besar kepada konsumen dan tentunya bisa mendapatkan keuntungan yang lebih apabila mencapai atau bahkan melebihi target penjualan. Namun pada kenyataannya para produsen terkadang kurang berorientasi pada konsumen bahkan cenderung tidak memperhatikan kepuasan konsumen sebagai tujuan utama pemasaran produknya. Meski begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa akan tetap ada taraf ketidak puasan konsumen terhadap suatu produk yang di produksi oleh produsen. Maka itu setiap produsen yang baru ataupun yang sudah lama berkecimpung di dunia pemasaran harus mulai menerapkan konsep pemasaran yang berorientasi pada konsumen, tentunya mengutamakan kepuasan setiap konsumen.
      Disini juga mengingatkan bahwa konsumen merupakan aset utama yang paling berharga bagi setiap produsen. Maka apabila sebagai produsen bisa memberikan yang terbaik kepada konsumennya, tentunya konsumen juga akan memberikan yang terbaik bagi produsen terutama dalam hal pemasaran produknya seperti halnya merekomendasikan suatu produk kepada rekan-rekan kerjanya.  

  
1.2.Rumusan Masalah
Seperti yang sudah dijelaskan pada latar belakang di atas, penulis mengambil rumusan masalah sebagai berikut :
·         Apa pengertian perilaku konsumen ?
·         Apa saja tipe-tipe perilaku konsumen ?
·         Apa jenis-jenis teori perilaku konsumen ?
·         Apa manfaat perilaku konsumen ?
·         Apa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen ?
·         Mengapa produsen perlu mengamati perilaku konsumen ?

1.3.Tujuan Penulisan
Sesuai yang diuraikan pada latar belakang dan rumusan masalah di atas, penulisan ini bertujuan untuk :
·         Mengetahui pengertian dan pemahaman perilaku konsumen.
·         Mengetahui jenis-jenis teori perilaku konsumen.
·         Memahami manfaat perilaku konsumen.
·         Mengetahui apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen.
·         Mengetahui tipe-tipe perilaku konsumen.
·         Mengetahui sifat perilaku konsumen.

  
BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Pengertian Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen adalah proses yang dilalui oleh seseorang/ organisasi dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan membuang produk atau jasa setelah dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhannya. Perilaku konsumen akan diperlihatkan dalam beberapa tahap yaitu tahap sebelum pembelian, pembelian, dan setelah pembelian. Pada tahap sebelum pembelian konsumen akan melakukan pencarian informasi yang terkait produk dan jasa. Pada tahap pembelian, konsumen akan melakukan pembelian produk, dan pada tahap setelah pembelian, konsumen melakukan konsumsi (penggunaan produk), evaluasi kinerja produk, dan akhirnya membuang produk setelah digunakan.Atau  kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan menggunakan barang dan jasa termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut.
Konsumen dapat merupakan seorang individu ataupun organisasi, mereka memiliki peran yang berbeda dalam perilaku konsumsi, mereka mungkin berperan sebagai initiator, influencer, buyer, payer atau user. Dalam upaya untuk lebih memahami konsumennya sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen, perusahaan dapat menggolongkan konsumennya ke dalam kelompok yang memiliki kemiripan tertentu, yaitu pengelompokan menurut geografi, demografi, psikografi, dan perilaku.
1.      Pengertian Perilaku Konsumen menurut para ahli :
·         Engel Et Al (1990)
Perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses yang mendahului dan menyusul dari tindakan ini.


·         Mowen
perilaku konsumen adalah studi unit-unit dan proses pembuatan keputusan yang terlibat dalam menerima, menggunakan dan penentuan barang, jasa, dan ide. Difinisi tersebut menggunakan istilah unit-unit pembuat keputusan, karena keputusan bisa dibuat oleh individu atau kelompok. Difinisi tersebut juga mengatakan bahwa konsumsi adalah proses yang diawali dengan penerimaan, konsumsi, dan diakhiri dengan penentuan

·         Hawkins, Best & Coney (2001)
Perilaku konsumen adalah studi mengenai individu, kelompok atau organisasi dan proses-proses yang dilakukan dalam memilih, menentukan, mendapatkan, menggunakan, dan menghentikan pemakaian produk, jasa, pengalaman, atau ide untuk memuaskan kebutuhan serta dampak proses-proses tersebut terhadap konsumen dan masyarakat.

·         Hanna & Wozniak (2001)
Perilaku konsumen berhubungan dengan alasan dan tekanan yang mempengaruhi pemilihan, pembelian, penggunaan, dan pembuangan barang dan jasa yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan pribadi.

2.2.Tipe-tipe Perilaku Konsumen
Menurut Wilkie (1990), tipe perilaku konsumen dalam melakukan pembelian dikelompokkan menjadi empat berdasarkan tingkat keterlibatan pembeli dan tingkat keterlibatan diferensiasi merek, yang dijelaskan sebagai berikut :
1.      Budget Allocation (Pengalokasian budget)
2.      Product Purchase or Not (Membeli produk atau tidak)
3.      Store Patronage (Pemilihan tempat untuk mendapatkan produk)
4.      Brand and Style Decision (Keputusan atas merek dan gaya)



2.3.Jenis – jenis Teori Perilaku Konsumen
1.      Teori Ekonomi Mikro 
Teori ini beranggapan bahwa setiap konsumen akan berusaha memperoleh kepuasan maksimal. Mereka akan berupaya meneruskan pembeliannya terhadap suatu produk apabila memperoleh kepuasan dari produk yang telah dikonsumsinya, di mana kepuasan ini sebanding atau lebih besar dengan marginal utility yang diturunkan dari pengeluaran yang sama untuk beberapa produk yang lain.

2.      Teori Psikologis
Teori ini mendasarkan diri pada faktor-faktor psikologis individu yang dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan lingkungan. Bidang psikologis ini sangat kompleks dalam menganalisa perilaku konsumen, karena proses mental tidak dapat diamati secara langsung.

3.      Teori Antropologis
Teori ini juga menekankan perilaku pembelian dari suatu kelompok masyarakat yang ruang lingkupnya sangat luas, seperti kebudayaan, kelas-kelas sosial dan sebagainya.

2.4.Manfaat Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen sangat beragam tergantung pada pemanfaat atau pengguna. terdapat dua kelompok pemanfaat: kelompok peneliti (riset) dan kelompok yang berorientasi implementasi (Peter dan Olson, 1999). Peran perilaku konsumen bagi pemasar atau produsen adalah mampu:
1.      Membujuk konsumen untuk membeli produk yang dipasarkan.
2.      Memahami konsumen dalam berperilaku, bertindak dan berpikir, agar pemasar atau produsen mampu memasarkan produknya dengan baik.
3.      Memahami mengapa dan bagaimana konsumen mengambil keputusan, sehingga pemasar atau produsen dapat merancang strategi pemasaran dengan baik.

  

2.5.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
1.      Individual Determinants of Consumer Behavior
o   Demografis, psikografis, dan kepribadian
§  Demografis berhubungan dengan ukuran, struktur, dan pendistribusian populasi. Demografis berperan penting dalam pemasaran.
o   Motivasi konsumen
§  Motivasi konsumen mewakili dorongan untuk memuaskan kebutuhan baik yang bersifat fisiologis maupun psikologis melalui pembelian dan penggunaan suatu produk.
o   Pengetahuan konsumen
§  Misalnya apakah makanan organik itu, kandungan nutrisi yang terdapat di dalamnya, manfaatnya bagi kesehatan, dan lain-lain.

o   Intensi, sikap, kepercayaan, dan perasaan konsumen
§  Intensi adalah pendapat subjektif mengenai bagaimana seseorang bersikap di masa depan. Sikap mewakili apa yang disukai maupun tidak disukai oleh seseorang. Kepercayaan dapat didefinisikan sebagai penilaian subjektif mengenai hubungan antara dua atau lebih benda. Perasaan adalah suatu keadaan yang memiliki pengaruh (seperti mood seseorang) atau reaksi. Perasaan dapat bersifat positif maupun negatif tergantung kepada setiap individu. Perasaan juga memiliki pengaruh terhadap penentuan sikap seorang konsumen.

2.      Environmental Influences on Consumer Behavior
o   Budaya, etnisitas, dan kelas social
§  Budaya adalah kumpulan nilai, ide, artefak, dan simbol-simbol lain yang membantu seseorang untuk berkomunikasi, mengartikan, dan mengevaluasi sebagai bagian dari suatu lingkungan. Etnisitas adalah suatu elemen penting dalam menentukan suatu budaya dan memprediksi keinginan dan perilaku konsumen. Kelas sosial dapat didefinisikan sebagai divisi yang bersifat relatif permanen dan homogenus dalam suatu kumpulan sosial dimana individual atau keluarga saling bertukar nilai, gaya hidup, ketertarikan, kekayaan, status, pendidikan, posisi ekonomi, dan perilaku yang sama.

o   Keluarga dan pengaruh rumah tangga
§  Misalnya kelahiran anak mempengaruhi suatu keluarga untuk menambah perabotan, bahan makanan bayi, dan lain-lain.


o   Kelompok dan pengaruh personal
§  Suatu perilaku konsumen tak lepas dari pengaruh kelompok dan personal yang dianutnya. Reference group adalah seseorang atau sekelompok orang yang mempengaruhi perilaku individu secara signifikan. Reference group dapat berupa artis, atlit, tokoh politik, kelompok musik, partai politik, dan lain-lain. Reference group mempengaruhi dalam beberapa cara. Pertama-tama reference group menciptakan sosialisasi atas individu. Kedua reference group berperan penting dalam membangun dan mengevaluasi konsep seseorang dan membandingkannya dengan orang lain. Ketiga, reference group menjadi alat untuk mendapatkan pemenuhan norma dalam sebuah kelompok sosial.




BAB III
PENUTUP

3.1.Kesimpulan
Mengamati Perilaku konsumen adalah mengamati berbagai macam aspek tentang konsumen. Kita dapat mengamati kepuasan konsumen dan apabila konsumen kurang puas dengan produk barang atau jasa yang ditawarkan maka produsen segera mengembangkan produknya hingga konsumen merasa puas.
Saat kita memahami perilaku konsumen, kita bisa melihat perbedaan-perbedaan produk yang ditawarkan berbagai produsen dengan jenis benda yang sama, misalkan produsen A memberikan warna yang berbeda dari produsen lain, sedangkan produsen B memberikan motif yang membedakan dengan produsen lain, begitu juga dengan Produsen C dan seterusnya yang akan memberikan sesuatu nilai lebih agar konsumen merasa puas dengan berbagai macam keuunggulan yang ditawarkan oleh para produsen tersebut.
Selain mempelajari kepuasan konsumen kita juga dapat mengamati bagaimana pemasaran suatu produk baik melalui iklan atau dengan cara produsen itu sendiri. sebagai contoh adalah pemasaran produk-produk cat dari berbagai  produsen yang kini lebih sering memasarkan produknya pada iklan di TV. Hal ini tanpa disadari para produsen cat mengerti bahwa banyak konsumen yang akan lebih tertarik apabila terdapat berbagai macam warna serta contoh detail warna untuk rumah mereka.
Oleh karena itu pelajaran perilaku konsumen ini sangat penting sekali untuk diamati agar suatu produk dapat bersaing ketat dengan keunggulannya masing-masing.










DAFTAR PUSTAKA

http://fatiamnisa.blogspot.com/2013/11/makalah-teori-perilaku-konsumen.html
http://dikasaktia.wordpress.com/2013/04/17/makalah-perilaku-konsumen/
http://syifa-rizkyka.blogspot.com/2012/10/perilaku-konsumen.html
http://muhammadmardidewantara.blog.com/2011/08/16/pentingnya-mempelajari-perilaku-konsumen/